RSS

makalah Hadits Mursal

21 Apr

Apa itu hadits Mursal? bagaimana kedudukannya jika di bandingkan dengan hadits-hadits yang lain, yuk mari kita coba pelajari apa yang di tulis oleh seorang mahasiswa semester 3 Jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Bandung berikut ini

BAB I
PENDAHULUAN
Hadits merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Hadits yang dijadikan pegangan adalah hadits yang dapat diyakini kebenarannya. Untuk mendapatkan hadits tersebut tidaklah mudah karena hadits yang ada sangatlah banyak dan sumbernya pun berasal dari berbagai kalangan.
Menurut Imam Malik ada empat jenis orang yang hadisnya tidak boleh diambil darinya, yaitu; orang yang kurang akal, orang yang mengikuti hawa nafsunya yang mengajak masyarakat untuk mengikuti hawa nafsunya, orang yang berdusta dalam pembicaraannya walaupun dia tidak berdusta kepada Rasul dan orang yang tampaknya saleh dan beribadah apabila orang itu tidak mengetahui nilai-nilai hadis yang diriwayatkannya.
Di samping itu para ulama hadis membuat kaidah-kaidah atau patokan-patokan serta menetapkan ciri-ciri kongkret yang dapat menunjukkan bahwa suatu hadis itu palsu. Ciri-ciri yang menunjukkan bahwa hadis itu palsu antara lain:
1. Susunan hadis itu baik lafaz maupun maknanya janggal, sehingga tidak pantas rasanya disabdakan oleh Nabi SAW, seperti hadis:
Artinya:
“Janganlah engkau memaki ayam jantan, karena dia teman karibku.”
1. Isi maksud hadis tersebut bertentangan dengan akal, seperti hadis:
Artinya:
“Buah terong itu menyembuhkan. Segala macam penyakit.”
1. Isi/maksud itu bertentangan dengan nas Al-Quran dan atau hadis mutawatir, seperti hadis:
Artinya:
“Anak zina itu tidak akan masuk surga.”
1. Hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah SWT. :
Artinya:
“Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”
Penghimpunan hadis nabi secara tertulis untuk pertama kalinya dikemukakan oleh khalifah Umar bin Khattab (w. 23/H/644 M). Namun ide tersebut tidak dilaksanakan oleh Umar karena beliau khawatir bila umat Islam terganggu perhatiannya dalam mempelajari Al-Quran. Pada tahun 100 H. Khalifah Umar bin Abdul Azis memerintahkah kepada gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amer bin Hazm supaya membukukan hadis-hadis nabi yang terdapat pada para penghafal.
Dilihat dari banyak sedikitnya perawi, hadits dikelompokkan menjadi 2, yaitu: hadits Mutawatir dan hadits Ahad. Sementara itu, hadits Ahad dikelompokkan lagi menjadi hadits Shahih, Hasan dan Dha’if.
Dilihat dari periwayatnya, hadits dikelompokkan menjadi hadits yang bersambung sanadnya dan hadits yang terputus sanadnya. Hadits yang terputus sanadnya dikelompokkan menjadi hadits Mu’allaq, hadits Mursal, hadits Mudallas, hadits Munqathi dan hadits Mu’dhol.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Mursal
Mursal artinya yang dilepaskan, yang dilangsungkan. Mursal, menurut Musthalahul Hadits, dikatakan bagi satu hadits yang diriwayatkan oleh seorang tabi’i langsung dari Nabi Saw. Dengan tidak menyebut nama orang yang menceritakan kepadanya. Jelasnya dalam sanad itu, tabi’i tidak menyebut nama orang yang mengkhabarkan Hadits utu kepadanya, tetapi langsung menyebut Nabi Saw. Saja.
Hadits Mursal disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi’in dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan sahabat tempat menerima hadits itu.
Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi’in dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan sahabat tempat menerima hadits itu.
Mursal ialah hadits yang gugur di akhir sanadnya setelaah tabi’in.
B. Pembagian Hadits Mursal
Mursal dibagi ke dalam dua bagian :
1. Mursal Jali
Mursal di sini maksudnya yang terputus. Jali artinya yang terang, yang nyata. Jadi mursal jali artinya yang putus dengan nyata-nyata, menurut pembicaraan ilmu hadits, ditentukan mursal jali itu untuk satu hadits yang diriwayatkan seorang rowi dari seorang syaikh, tetapi syaikh ini tidak semasa dengannya.
2. Mursal Khafi
Mursal di sini sama maksudnya dengan Mursal jali, yaitu dengan makna yang terputus. Khafi artinya yang tersembunyi, yang tidak terang, yang gelap. Jadi mursal khafi ialah putus yang tersembunyi atau putus yang tidak terang.
Dalam ilmu isnad, ditujukan kepada :
a. Yang diriwayatkan oleh seorang rowi dari seorang syaikh yang semasa dengannya dan bertemu. Tetapi ia tidak menerima hadits itu darinya.
b. Yang diriwayatkan oleh seorang rawi dari seorang syaikh yang semasa dengannya, tetapi ia belum pernah bertemu dengannnya.
c. Yang diriwayatkan oleh seorang rowi dari seorang syaikh yang semasa dan bertemu dengannya, tetapi ia tidak pernah menerima satu pun hadits daripadanya.
Dan menurut buku Musthalah hadits Mursal khofi di bagi 2 :
a. Mursal Shohabi : pemberitahuan sahabat yang disandarkan kepada nabi tetapi ia tidak mendengar/menyaksikan sendiri apa yang diberitakan karena ia masih kecil/terakhir masuk islamnya.
b. Mursal tabi’I : pemberiaan tabi’in yang disandarkan kepada nabi tanpa menyebut sahabat.

C. Bentuk-Bentuk Hadits Mursal
1. Menurut Ahli Hadits :
Mursal datang dari perktaan tabi’in, tetapi seolah-olah seperti perkataan, perbuatan atau seolah-olah Rasul hadir untuk melakukan perbuatan.
2. Menurut Ahli Fiqih :
Mursal menurut ahli fiqih lebih umum dari pendapaat ahli hadits. Menurut mereka, semua yang sanadnya terputus atau ada salah satu rowinya gugur disebut mursal.

D. Hukum Hadits Mursal :
 Mursal itu asalnya dhaaif dan mardud. Karena salah satu syarat diterimanya hadits itu bersambung sanadnya. Tetapi dalam hadits mursal ada salah satu rowi yang dibuang. Dan keadaan yang dibuangnya itu sahabat. Ini yang menjadikan hadits mursal itu dhaif.
 Ada Ulama yang berpendapat bahwa Hadits mursal itu boleh dijadikan dalil agama, tetapi kebanyakan ahli ilmu hadits berpendirian : hadits mursal tidak boleh dipakai.
Tentang tidak boleh dipakainya itu, Imam ibnu Hajar menunjukan alasan :
Boleh jadi yang gugur (namanya tidak disebut)itu shahabi, tetapi boleh jadi juga seoarang tabi’I lain karena ada juga tabi’I meriwayatkan dari tabi’I pula.
Kalau kita berpegang, bahwa yang gugur itu seorang tabi’in, boleh jadi tabi’in itu orang yang lemah, tetapi boleh jadi juga ia kepaercayan. Kalau kita andaikaan dia seorang kepercayaan, maka bolh jadi pula ia memnerima riwayatitu dari seorang shahabi, tetapi boleh jadi juga dari seorang tabi’in lain.
Demikian selanjutnya memungkinkan sampai enam atau tujuh tabi’in karena terdapat dalam satu sanad, ada enam tabi’in yang seoarang yang meriwayatkan dari yang lain. Oleh karena itu, sepatutnya hadits mursal dianggap lemah.
Tabi’in yang melangsungkan suatu hadits atau riwayat disebut Mursil.
Perbuatan melangsungkan itu dalam istilah dikatakan Irsal.
E. Berhujjah Dengan Hadits Mursal
Hadits mursal itu dimasukkan ke dalam tingkatan hadits mardud, karena jenis-jenis dan sifat-sifat perawi yang digugurkan itu tidak jelas, apakah ia seorang sahabat sehingga hadits yang diriwayatkannya dihukumi shahih, karena sahabata itu semuanya adil.
Karena hadits mursal khafi dihukumi sebagai hadits dhaif. Sikap ulama dalam menggunakan hujjah hadits mursal, bermacam-macam :
1. Imam Malik dan Ahmad, menurut pendapat beliau yang popular, demikian juga Abu Hanifah, menerima Hadits Mursal sebagai hujjah. Beliau beralasan menurut logika, bahwa rawi yang bersifat adil, tentu tidak mau menggugurkan rawi-rawi yang berada di antara dia dengan Nabi
2. Ulama Jumhur dan Asy-syafi’iy memandang bahwa hadits mursal itu adalah dhaif, karena tidak dapat dijadikan hujjah. Karena rawi yang digugurkan tersebut tidak diketahui identitasnya. Asy-Syafi’iy mengemukakan pengecualian-pengecualian anatara lain:
a. Hadits mursal dari ibnu’l Musayyab. Sebab pada umumnya ia tidak meriwayatkan hadits selain dari abu Hurairah
كان رسو ل الله ص يقول, آمين
b. Hadits Mursal yang dikuatkan oleh hadits musnad, baik dhaif maupun shahi
اذ ا شك احدكم فى صلا ته فلم يدركم صلى الثلا ثا ام ربعا فليصل ركعة و ليسجد سجد تين
c. Hadits mursal yang dikuatkan oleh qiyas
كان رسول الله ص ياًمر الموًذن في العيدين فيقول (الصلا ة جا معة)
d. Hadits mursal yang dikuatkan oleh hadits-hadits mursal yang lain
ان رسول الله ص نهى عن بيع اللحم با لحيوان
3. Menurut Asy-Syaukany bahwa yang benar, hadits mursal itu tak dapat dibuat hujjah secara mutlaq, karena adanya keragu-raguan dan tidak diketahui dengan jelas tentang keadaan rawinya. Sedangkan syarat-syarat untuk mengamalkan sebuah hadits itu hendaklah diketahui keadilan rawinya.
Dari 3 macam pendapat tersebut timbulah beberapa pendapat menjadi 10 macam pendapat :
1. Hadits mursal daapat dipakai hujjah secara mutlaq
2. Tak dapat dipaki secara mutlaq
3. Dapat, asal yang meng-irsal-kan ulam abad ketiga
4. Dapat, bila yang meng-irsal-kan itu orang adil
5. Dapat, bila yang meng-irsal-kan itu Sa’id bin Musayyab
6. Dapat, asal ada penguaatnya
7. Dapat, bila dalam bab itu tidak ada yang lain
8. Ia lebih kuat daaripada musnad
9. Dapat untuk amalan-amalan sunnat, sedaang kalau untuk amalan-amalan yang wajib tidak dapat
10. Dapat, asal yang meng-irsal-kan itu sahabat
F. Contoh Hadits Mursal :
عَن ما لك عن عبد الله بن ابي بكر بن حزم ان فى الكتاب الذي كتبه رسول الله ص لعمروبن حزم : ان لا يمس القرآن الاطا هر.
Artinya : Dari Malik Dari Abdillah bin Abi Bakar bin Hazm, bahwa dalam surat yang Rasulallah saw. Tulis kepada Amr bin Hazm (tersebut) : “bahwa tidak menyentuh Qur’an melainkan orang yang bersih”.

Keterangan :
Gambaran susunan sanad rawi-rawi Hadits itu demikian :
1. Malik
2. Abdullah bin abi Bakar
3. Rasulullah saw
Abdulallah bin abi Bakr ini seorang tabi’in, sedang seorang tabi’in tidak semasa dan bertemu dengan Nabi saw.
Jadi mestinya, Abdullah menerima riwayat itu dari seorang lain atau shahabi.
Karena ia tidak menyebut nama Shahabi atau orang yang mengkhabarkan kepadanya itu, tetapi ia langsungkan kepada Rasulullah, maka yang begini dinamakan Mursal.
BAB III
SIMPULAN

Mursal artinya yang dilepaskan, yang dilangsungkan. Mursal, menurut Musthalahul Hadits, dikatakan bagi satu hadits yang diriwayatkan oleh seorang tabi’i langsung dari Nabi Saw. Dengan tidak menyebut nama orang yang menceritakan kepadanya. Jelasnya dalam sanad itu, tabi’i tidak menyebut nama orang yang mengkhabarkan Hadits utu kepadanya, tetapi langsung menyebut Nabi Saw. saja.
Mursal dibagi ke dalam dua bagian :
1. Mursal Jali
Mursal di sini maksudnya yang terputus. Jali artinya yang terang, yang nyata. Jadi mursal jali artinya yang putus dengan nyata-nyata, menurut pembicaraan ilmu hadits, ditentukan mursal jali itu untuk satu hadits yang diriwayatkan seorang rowi dari seorang syaikh, tetapi syaikh ini tidak semasa dengannya.
2. Mursal Khafi
Mursal di sini sama maksudnya dengan Mursal jali, yaitu dengan makna yang terputus. Khafi artinya yang tersembunyi, yang tidak terang, yang gelap. Jadi mursal khafi ialah putus yang tersembunyi atau putus yang tidak terang.
Bentuk-bentuk hadits Mursal ada dua macam: (1) Menurut ahli hadits, (2) Menurut ahli Fiqih.
Hukum hadits mursal dhoif dan mardud karena tidak dapat dijadikan hujjah. Karena rawi yang digugurkan tersebut tidak diketahui identitasnya. Hadits Mursal sebagai hujjah. Beliau beralasan menurut logika, bahwa rawi yang bersifat adil, tentu tidak mau menggugurkan rawi-rawi yang berada di antara dia dengan Nabi. Menurut Asy-Syaukany bahwa yang benar, hadits mursal itu tak dapat dibuat hujjah secara mutlaq, karena adanya keragu-raguan dan tidak diketahui dengan jelas tentang keadaan rawinya.

DAFTAR PUSTAKA
Hassan Qadir.2002. Ilmu Musthalah Hadits. Bandung : Diponegoro Bandung
Kadarsah Sulaiman. 2003. Musthahul Hadits. Garut : Defiya
Rahman Fatchur. 1970. Musthalahul Hadits. Yogyakarta : Offset
Thohan Mahmud. 1985. Taisir Musthahul Hadits. Kuwait : Hairomain

 
Leave a comment

Posted by on April 21, 2012 in Ulumul Hadits

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: